Setelah menginap 2 malam di apartemenku, beliau mengajak untuk
keluar kota menikmati alam indah pegunungan. Tanpa pikir-pikir lagi kita
segera berkemas dan segera berangkat di pagi hari karena perjalanan ke
sana memakan waktu sekitar 3 jam dengan mobil. Kalau hitung jarak sih
seperti dari Jakarta ke Pangandaran. Sesampainya di sana kita segera
mencari area perkemahan yang nyaman di dekat sungai. Setelah mendirikan
tenda, aku bergegas mencari kayu bakar untuk memasak air dan untuk
menghangatkan badan, maklumlah suhu di sini sekitar 5 derajat Celcius.
Ibuku sendiri segera menyiapkan peralatan memasak untuk keperluan makan
malam.
Menjelang makan malam kita bercerita mengenai keadaan
masing-masing. Beliau bercerita mengenai ayah kami yang sekarang sudah
semakin sibuk dengan pekerjaannya dan juga adik saya (pria) lagi gila
dengan hobinya balap mobil. Aku sadar bahwa setelah kepergianku untuk
sekolah ibuku agak kesepian. Sambil bersantap ibuku banyak menanyakan
hal-hal pribadi yang menyangkut kehidupanku dan aku jawab dengan jujur
apa adanya.
Sambil meneguk beberapa gelas wine, beliau bertanya, "Bill, kamu udah punya pacar belum di sini?"
Kaget juga mendengar pertanyaannya, "Kalo yang tetap sih yah..belum,
tapi temen cewe sih banyak. Mau yang bule juga ada kok." kataku sambil
nyerocos.
Beliau tertawa mendengarnya dan aku dipeluknya erat. Entah
kenapa kok tiba-tiba batang kemaluanku segera tegang, mungkin karena
payudara ibuku yang besar itu mengganjal di dadaku atau juga karena
cuaca yang cukup dingin. Beberapa saat kita bersenda gurau melepas rindu
dan akhirnya kita memutuskan untuk tidur. Beliau segera terlelap di
kantung tidurnya mungkin karena capek di dalam perjalan tadi siang.
Sedangkan aku sulit tidur karena masih membayangkan bentuk tubuh ibuku
dan juga batang kemaluanku belum turun. Dengan susah payah, akhirnya aku
tertidur juga.
Pagi harinya aku terbangun karena sinar matahari
masuk ke tenda kami. Kutengok ke katung tidur ibuku, ternyata beliau
sudah tidak ada. Setelah sarapan seadanya aku ingin segera mandi di
sungai. Jarak dari sungai ke tenda kami sekitar 100 meter. Dari kejauhan
aku melihat seorang wanita sedang main air. Ternyata setelah aku dekati
tidak lain adalah ibuku sendiri. Penasaran juga, aku semakin dekat
sambil mengintip sedang apa sih beliau. Tidak lama kemudian, beliau
membuka kaos putihnya dan juga celana pendeknya. Habis itu beliau
melihat sekitarnya memastikan tidak ada orang dan juga membuka BH-nya
serta celana dalamnya, kemudian langsung terjun ke sungai. Menyaksikan
pemandangan yang indah ini, batang kemaluanku kembali menegang bahkan
lebih tegang dari kemarin malam. Tanpa disadari aku mengocok-ngocok
batang kemaluanku sendiri sambil berkhayal aku sedang ML denga beliau.
Melihat pantatnya yang bulat menyembul dari permukaan air, semakin keras
pula aku kocok batang kemaluanku.
Tidak tahan lagi, "Croot.. crott.. crot.." maniku keluar.
Kuputuskan untuk tidak jadi mandi dan kembali ketenda. Setelah itu
kulihat beliau juga balik ke tenda dengan raut wajah yang segar kembali.
Kita bergegas ganti pakaian karena ingin melihat beberapa acara di
pusat perkemahan. Menjelang sore, kita kembali ke area tenda untuk
istirahat. Aku segera mengambil handuk untuk pergi mandi, karena
seharian ini aku memang belum mandi. Aku pamit dan beliau berkata akan
segera menyusulku ke sungai. Tentu saja aku kaget campur gembira.
Setibanya di sana, ingin tahu juga rasanya mandi berbugil ria di alam
terbuka. Kucopot kaos dan celana pendekku sekaligus celana dalamku.
Pertama sih aku kedinginan, tapi setelah itu malah keasyikan sampai aku
lupa kalau ibuku mau menyusul.
"Bill, kayaknya kamu asyik banget tuh," tiba-tiba suara beliau menyadarkan lamunanku.
Refleks aku menutupi batang kemaluanku yang sudah lama tegang. Aku
sadar mukaku mungkin merah kuning hijau saat itu. Apalagi dia tanpa
ragu-ragu membuka kaosnya dan rok mininya.
Terus katanya, "Boleh dong mami ikutan?"
Sambil terheran-heran kujawab, "Bo.. boleh kok.."
Segera beliau masuk ke dalam air. Setelah membasahi badannya, beliau
segera melepas BH-nya diikuti celana dalamnya (mungkin beliau menyadari
bahwa tidak adil kalau hanya aku yang berbugil ria). Wah birahiku
semakin tidak bisa diajak kompromi nih, begitu juga batang kemaluanku
yang sudah mulai kram karena kelamaan tegang.
Kami bercanda
siram-siraman, saling mengelitiki dan lainnya. Karena sebel dikitikin
(aku paling geli soalnya), kupeluk erat ibuku dari belakang sampai
beliau tidak bisa bergerak. Ternyata tanpa disengaja, batang kemaluanku
yang sudah tegang ini bersentuhan dengan pantatnya yang bulat (seperti
punya bayi) itu.
Beliau bilang, "Udah dong Bill, mami sakit nih.. aduh apa nih yang nempel di pantat mami?"
Karena kaget bercampur malu, aku tarik mudur pantatku supaya batang kemaluanku tidak menyentuh pantatnya.
"Bill, Bill mami rasa tadi ada benda yang neken pantat mami. Barang kamu yah?" tanyanya.
Dengan malunya, saya jawab, "Ngga tau tuh mam, mungkin daun kali."
Ibuku tertawa mendengarnya dan tiba-tiba tangannya sudah memegang batang kemaluanku.
"Nah, ini nih kayaknya yang mengganjal tadi," katanya sambil mengelus-ngelus batang kemaluanku.
Aku tidak bisa bicara apa-apa, kecuali mengendurkan peganganku.
Dielusnya batang kemaluanku dengan lembut sambil dikocok sekali-kali.
Aku semakin tidak tahan dibuatnya. Kuciumi lehernya yang putih mulus
dari belakang serta tanganku bergerilya ke payudaranya yang besar dan
kenyal itu. Terdengar desahan keluar dari mulut ibuku. Rupanya beliau
juga sudah tidak kuat menahan nafsunya. Kuputar badannya sehingga kita
berhadapan muka dan segera kukulum bibirnya yang seksi itu. Beliau juga
membalas ciumanku dengan ganas pula, sehingga lidahku disedot ke dalam
rongga mulutnya yang hangat itu. Tidak mau kalah, aku juga melakukan hal
yang sama sampai kami kesulitan bernapas karena nafsunya. Air dingin
sebatas leher sudah menjadi hangat sepertinya.
Dengan tangan kiri
menempel di pantatnya dan satu lagi meremas payudaranya, membuat
keadaan semakin berkobar. Kubimbing tangannya menuju batu besar di tepi
sungai, lalu kusuruh beliau duduk di atasnya, sementara aku masih berada
di dalam air. Kurentangkan kedua belah kakinya yang indah itu dan
segera terlihat bukit yang ditumbuhi bulu-bulu halus serta goanya yang
mulai terbuka. Dengan insting seorang lelaki, aku jilat lubang kemaluan
ibuku, tempat aku muncul di dunia ini 19 tahun yang lalu. Hal ini
membuat beliau semakin menekan-nekan kepalaku serta membelai rambutku.
"Ohh Biill.. enak banget.. teruss.. mami udah ngga tahan," desahnya.
Kujulurkan lidahku semakin dalam dan semakin terasa pula cairan kewanitaannya di lidahku yang terasa sangat nikmat.
"Ohh yess.. oh yeh.. mami keluaarr.." tiba-tiba badannya menegang.
Kujilati kembali badannya dari perutnya menuju lehernya hingga tiba di
bibirnya. Sekarang badannya sudah berada di dalam air lagi sambil
membelakangiku. Kulebarkan kakinya berlawanan arah dan kuisyaratkan
untuk lebih membungkuk. Dengan keadaan begitu, aku bisa memasukkan
batang kemaluanku yang dari tadi sudah dengan sedikit leluasa.
Ternyata ML di air itu membuat lubang kemaluan menjadi serat dan agak
sulit dimasuki. Susah payah juga, sedikit demi sedikit akhirnya amblas
juga semuanya (20 cm dengan diameter 4 cm punyaku).
"Oh mmam, you are the best..," bisikku.
"And you had the biggest dick inside me." sahutnya sambil mengulum bibirku.
Mulailah kugenjot, pertama perlahan-lahan, lama kelamaan semakin cepat
sambil memutar-mutar batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya
seperti orang mengebor. Kadang aku sengaja agak keras sehingga perutku
mendorong-dorong pantatnya. Hampir sekitar 20 menit, kami menikmati
adegan ini dan sudah yang kedua kalinya ibuku mengalami orgasme.
Sambil merem melek, aku mendesah, "Mam aku udak mau keluar iih.. akh.. ahh.. croott.. croott.. crot.."
Tidak tahan lagi aku tembakkan saja spermaku di dalam hampir sebanyak 6
kali tembakan. Dan kelihatan ibuku sangat menikmati pertemputan ini.
Kami kembali berciuman seperti layaknya sepasang kekasih.
Sesudah
itu, Beliau naik duluan ke atas dan kembali ke tenda sambil membawa
bajunya tanpa mengenakannya terlebih dahulu. Sementara aku masih
memikirkan apa yang baru saja aku lakukan.
Menjelang malam,
kulihat ibuku sedang mempersiapkan makan malam untuk kami berdua. Sambil
makan malam, kami kembali membahas apa yang terjadi tadi siang, dan
tentu saja beliau berpesan agar semua yang terjadi di sini hanya kami
berdua yang mengetahuinya. Aku sih setuju banget. Setelah kenyang dan
mencuci peralatan masak, kami kembali mengobrol sambil menikmati wine
yang kami bawa. Mengingat besok sudah harus kembali ke kota, kami berdua
sepakat untuk membuat kenangan yang tidak terlupakan.
Kembali
kami berciuman mesra di samping api unggun sambil kami saling membukakan
pakaian kami masing-masing. Udara dingin yang tadinya menyengat berubah
menjadi kehangatan yang tiada tara. Tanpa disadari kami sudah telanjang
bulat dan posisiku terlentang di tikar. Sambil berciuman tangan beliau
mengocok batang kemaluanku yang sudah mulai menegang, dilanjutkan dengan
mejilati dadaku dan pentilku, turun menuju perut terus sampai ke jempol
kaki. Dihisapnya jempol kakiku yang membuat aku melayang.
"Bill, ini namanya mandi kucing." terangnya.
"Aduh mam, enak banget, geli tapi enak." sahutku gemetaran.
Kembali beliau menjilati betisku, dengkulku dan terakhir buah batang
kemaluanku dilahapnya. Dijilatinya satu persatu hingga mengkilap terkena
sinar api unggun. Gilanya lidah beliau sekali-kali menyapu lubang
pantatku yang membuat aku semakin melayang. Tiba akhirnya, lidahnya
menjilati kepala batang kemaluanku sebelum dimasukkan ke mulutnya yang
hangat.
Dengan sedikit menjulurkan kepalaku, bisa kulihat kepala
ibuku naik turun sambil tangannya membelai-belai dadaku. Semakin cepat
gairah, kepalanya naik turun sehingga membuatku mau orgasme.
Kubilang, "Mam kayaknya mauu kkeelluuaarr nih."
"Yah udah, keluarin aja yah di mulut." katanya.
Tanpa ragu-ragu kusemprotkan semua spermaku di rongga mulutnya. Lalu
terdengar bunyi, "Glek" seperti orang menelan air. Ternyata semua
spermaku habis ditelannya tanpa setetes pun tersisa sambil terus
menyedot-nyedot batang kemaluanku dengan rakusnya serasa buah batang
kemaluanku ikut tersedot. Sesudah puas, beliau bangkit dan mengambil 2
gelas wine untuk kami berdua, kemudian kami toast.
"Bill, mami sayang banget sama kamu." katanya.
Tidak mau kalah kataku, "Billy juga sayang sama mami, sayang buanget," kemudian disambutnya dengan ciuman mesra.
Akhirnya, kami tertidur kecapean tanpa sehelai benangpun di dalam kantong tidur yang sama.
Paginya, kami segera berbenah untuk segera kembali ke kota, karena sore
harinya ibuku sudah harus kembali ke LA untuk menemui teman lamanya
sebelum beliau kembali ke Jakarta. Setibanya di kota aku kembali sibuk
mengurus tiketnya dan dia juga sibuk membeli beberapa cindera mata.
Sekitar jam 19:30, tibalah waktunya untuk mengantar ibuku ke airport.
Terbersit kesedihan di matanya karena kami harus berpisah beberapa saat.
Aku juga tidak tahan sebetulnya dengan perpisahan. Setelah boarding,
kami mengobrol dulu sejenak, tapi tiba-tiba ibuku menarik tanganku
menuju ke suatu tempat. Tempatnya agak pojok seingatku, itu adalah
toilet khusus wanita. Setelah menunggu isyarat darinya, baru aku berani
masuk dan ternyata kosong. Kami memilih salah satu bilik dan menguncinya
dari dalam. Mungkin karena berada di negara yang bebas, aku sedikit
tidak terlalu takut. Ibuku mengulumku dengan ganasnya sambil membuka
retsleting celana jeansku. Maka dengan mudah batang kemaluanku keluar
karena sudah tegang dari tadi. Diciumnya dengan mesra sekali kepala
batang kemaluanku berkali-kali yang kemudian dibenamkan dalam-dalam
mulutnya.
Di sela-sela kulumannya sempatnya beliau berpesan,
"Bill, kalau mami ngga ada, jangan ML sembarangan yah! Pilih-pilih dulu
and jangan lupa pake komdom. Buat ngga kena penyakit."
Aku sih hanya
bisa menganggukkan kepala saja, sebab lagi asyik. Semakin menggalak
saja beliau menghisapnya, sambil tangannya memainkan buah batang
kemaluanku.
"Mam.. aku udah mau keluar nihh.. ahh.. uuhh.. crot.. croot.." kataku sambil menutup mulutku takut terdengar orang lain.
Kali ini mungkin terlalu banyak, sehingga sebagian dari spermaku
mengalir keluar melalui bibirnya yang seksi. Diusapnya pakai tangannya
kemudian dijilati kembali dengan lidah mungilnya.
Tiba-tiba,
kenikmatan kami terganggu karena berita panggilan kepada para penumpang
untuk segera naik ke pesawat. Dengan tergesa-gesa aku menaikkan celanaku
dan kami merapihkan baju masing-masing.
Sementara itu ibuku malah
membuka celana dalam G-stringnya dan memberikannya kepadaku sambil
berpesan, "Bill, kamu simpan ini, dan bawa balik ke Jakarta kalo kamu
pulang nanti.."
Kaget bukan kepalng, aku terima dan aku masukkan ke dalam kantong celana jeansku.
"Ok Mam, aku janji deh." sahutku sambil mencium keningnya.
Kami berlari menuju pintu masuk. Sempat-sempatnya aku memperhatikan
pantat ibuku terguncang-guncang karena tanpa celana dalam dan dibungkus
rok mini ketat. Di depan pintu aku mencium tangannya seperti hubungan
normal ibu dan anak. Ibuku bergegas masuk sambil melambaikan tangannya,
yang sementara itu aku masih berpikir, sepertinya ada yang janggal di
bibir ibuku tadi. Pikir punya pikir ternyata itu bekas spermaku yang
membentuk garis putih di atas bibir, seperti orang habis minum susu atau
milkshake. Tapi sudah terlanjur masuk, jadi aku tidak sempat untuk
memperingati beliau supaya menghapusnya dengan tissue.
"Have a nice flight, Mom.. see you soon." kembali aku bergumam.
Tamat
Your Ads Here
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
